BALARAJA  INtangerang.com — Kabupaten Tangerang merupakan salah satu dari kabupaten dan kota di Provinsi Banten yang menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM). Meskipun belum belajar tatap muka secara 100 persen, para siswa terlihat sangat antusias kembali ke sekolah. Hal ini terlihat dari pantauan wartawan Intangerang.com di sekolah. Siswa terlihat bersemangat mengikuti belajar tatap muka yang digelar SMAN 1 Kabupaten Tangerang.

Fajar Wahyu Wafiuddin, siswa kelas 12 MIA 2, SMAN 1 Kabupaten Tangerang mengaku, sudah menanti belajar tatap muka digelar di sekolah. Ia merasa, belajar tatap muka lebih efektif ketimbang pembelajaran daring yang lebih banyak dilakukan selama pandemi Covid-19.

“Kalau saya pribadi, lebih senang dengan pembelajaran tatap muka ketimbang daring. Sebab pada saat pembelajaran daring yang kemarin, saya sempat menemui beberapa kendala,” ujar Fajar, saat ditemui di SMAN 1 Kabupaten Tangerang, Rabu (5/1/2022).

Fajar menjelaskan, kendala yang dialaminya seperti sinyal internet yang jelek saat belajar daring digelar. Hal ini membuatnya merasa belajar daring kurang efektif. Selain sinyal, tentunya biaya pembelian paket internet juga cukup menguras isi kantong orangtua. “Lebih enak tatap muka, sebab ketika tidak paham atau kurang paham bisa langsung bertanya kepada guru yang bersangkutan,” ucap Fajar.

Fajar berharap belajar tatap muka yang digelar sesuai surat keputusan bersama empat menteri ini bisa berlangsung hingga beberapa waktu ke depan. Bahkan kalau bisa pembelajaran dilakukan 100 persen. Sehingga ia bisa berjumpa dengan teman-teman satu kelasnya.

Menurutnya, siswa kelas 12 sangat membutuhkan belajar tatap muka untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan sekolah dan juga Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

“Tidak tahu kalau siswa lain, tapi saya pribadi lebih senang tatap muka seperti ini. Semoga bisa lebih efektif, karena bisa bertemu langsung dengan guru, komunikasi dengan guru,” kata Fajar.

Namun, Fajar merasa waktu belajar selama tiga jam sehari di sekolah masih kurang efektif. “Bagi saya waktu tiga jam yang diberikan kurang efektif, sebab kalau bisa lebih dari itu. Apalagi bagi saya yang kelas 12, butuh banyak bantuan dari guru sebagai pembimbing,” tutur Fajar.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Kabuaten Tangerang Raden Tandjung Sekartiani Yulraida mengatakan, belajar tatap muka digelar sesuai aturan yang tertuang dalam SKB empat menteri. Belajar tatap muka digelar dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Sesuai aturan, kami tidak buka kantin sekolah, dengan siswa disarankan untuk membawa bekal makanan dan minuman dari rumah. Selain itu, guru dan siswa di sini juga sudah divaksin dua kali (dosis kedua),” kata Tandjung.

Lebih lanjut Tandjung memaparkan, sesuai arahan dari Dindikbud Provinsi Banten, untuk saat ini SMA di Kabupaten Tangerang hanya diperkenankan menggelar tatap muka 50 persen. Namun bagi tenaga pendidikan di sekolah yang dipimpinnya bukan suatu masalah.

Kata Tandjung, dari survey yang dilakukan sekolah kepada orangtua siswa, lebih dari 80 persen orangtua setuju pembelajaran tatap muka dilaksanakan di sekolah. Hanya saja untuk mencegah terjadinya cluster sekolah, orangtua juga meminta protokol kesehatan benar-benar diterapkan sekolah.

“Penerapan protokol kesehatan saat pembelajaran tatap muka tidak bisa ditawar lagi. Tentunya kami menerapkan hal tersebut secara ketat. Jika ada siswa yang sakit, kami meminta anak tersebut belajar di rumah terlebih dahulu. Ini demi mencegah penyebaran virus Covid-19,” terang Tandjung. (mas)

Wartawan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + 12 =